Pusat-pusat Pertumbuhan di Indonesia

Pusat-Pusat Pertumbuhan di Indonesia

Jakarta merupakan kota salah satu contoh wilayah pusat pertumbuhan di Indonesia,Jakartamerupakan kota yang mengalami perkembangan sangat pesat,sarana dan prasarana penunjang kehidupan kota telah banyak dibangun, sehingga kehidupan kota dapat berlangsung hampir 24 jam. Pada mulanya, Jakarta merupakan kota administrasi, pelabuhan, dan perdagangan. Kegiatan ini mendorong munculnya industri dan jasa. Semakin lama kegiatan terus berkembang menjadi sangat kompleks seperti saat ini.

Perkembangan pusat-pusat pertumbuhan di Indonesia banyak bertumpu pada sektor industry,semakin berkembangnya idustri akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi sehingga mendorong perkembangan wilayah dan tentu saja berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat

Wilayah Indonesia yang luas dan merupakan negara kepulauan tentu saja berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan. Pembangunan nasional akan lancar apabila pelaksanaannya tidak terpusat dalam satu wilayah, misalnya Jawa, idealnya pembangunan hendaknya menyebar dan menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia. Atas dasar ini, maka pembangunan nasional Indonesia dilaksanakan dengan sistem perwilayahan (regionalisasi) dan kota-kota utama yang ada dijadikan sebagai pusat-pusat pertumbuhannya.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah membagi wilayah Indonesia menjadi empat pusat pertumbuhan utama  yaitu Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Setiap pusat pertumbuhan atau regional membawahi beberapa wilayah. Setiap wilayah terdiri atas beberapa daerah. Untuk Regionalisasinya dapat dilihat pada tabel berikut.

Regionalisasi Pusat Pertumbuhan Indonesia

Bila disajikan dalam peta, pusat pertumbuhan di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut

Sistem perwilayahan tersebut juga diterapkan agar terjadi hubungan antara kabupaten dan kecamatan, antarkabupaten, serta antarkecamatan yang merupakan wilayah administrasi lebih kecil.

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)

Program pembangunan nasional telah dilaksanakan pemerintah lebih dari 30 tahun. Banyak kemajuan di segala bidang dan memberi manfaat bagi masyarakat. Akan tetapi, selain keberhasilan yang telah dicapai tidak sedikit kekurangan dan kelemahan yang menyertainya. Beberapa kekurangan tersebut antara lain terjadinya kesenjangan pembangunan, kesenjangan ekonomi antar golongan penduduk, dan kesenjangan pembangunan antar wilayah. Secara geografis, kesenjangan pembangunan terjadi antara kawasan timur Indonesia (KTI) dengan kawasan barat Indonesia (KBI). Kesenjangan pembangunan antar kawasan ini perlu diatasi, sehingga KTI yang sudah tertinggal dapat mengejar ketertinggalannya. Usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi kesenjangan itu dengan pembentukan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET) di KTI melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 150 Tahun 2000. KAPET yang dikembangkan di kawasan timur Indonesia (KTI) diharapkan menjadi pusat pertumbuhan yang akan merangsang perkembangan wilayah sekitarnya melalui ”trickle down effect”. Dengan demikian, mendorong munculnya kegiatan-kegiatan ekonomi di wilayah sekitar. Beberapa bidang kegiatan ekonomi yang dapat dikembangkan di KTI meliputi pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, perikanan, kehutanan, pariwisata, pertambangan, serta industri. Pengembangan KAPET tersebar di wilayah Indonesia, yaitu Manado, Bitung, Batui, Pare-Pare, Bukari, Bima, Seram, Mbay, Biak, Sanggau, Das Kakab, Batulicin, Sasamba, dan Sabang.

Penyebaran pusat-pusat pertumbuhan ke luar Jawa terutama ke kawasan timur Indonesia (KTI) seperti pembentukan KAPET bertujuan sebagai berikut.

1) Pemanfaatan sumber daya alam.

2) Peningkatan dan pemerataan kegiatan ekonomi.

3) Peningkatan pendapatan daerah.

4) Memperkuat ketahanan dan posisi geografis.

Pengaruh yang ditimbulkan dari pusat pertumbuhan yang berkembang di suatu wilayah sebagai berikut.

a. Pemusatan Sumber Daya Manusia

Munculnya pusat pertumbuhan di suatu wilayah akan menarik tenaga kerja yang banyak. Para pekerja dari luar wilayah akan pindah dan menetap di wilayah pusat pertumbuhan sehingga terjadi pemusatan penduduk. contoh, penambangan emas di wilayah Sumbawa memerlukan banyak tenaga kerja dari luar wilayah.

b. Perkembangan Ekonomi

Pusat pertumbuhan yang muncul di suatu wilayah akan meningkatkan kegiatan perekonomian di wilayah itu. contoh, munculnya pusat pertumbuhan yang berawal dari kegiatan penambangan emas merangsang tumbuhnya kegiatan ekonomi lain, seperti warung makan, pasar, penginapan, usaha transportasi, dan tempat hiburan. Kegiatan ekonomi yang berkembang di wilayah pusat pertumbuhan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk.

c. Perubahan Sosial Budaya

Pengaruh pusat pertumbuhan yang semakin berkembang terhadap sosial budaya antara lain sebagai berikut.

1) Penduduk termotivasi untuk memiliki keterampilan dan pengetahuan guna mengatasi masalah akibat perubahan sosial budaya.

2) Terjadi percampuran budaya (akulturasi)

3) Arus informasi dari luar wilayah semakin meningkat.

4) Status sosial akan meningkat seiring peningkatan kesejahteraan hidup.

5) Perubahan sikap penduduk terhadap disiplin waktu dan penggunaan uang,

Menentukan batas wilayah pertumbuhan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

a.       Secara Kualitatif

Penentuan batas wilayah pertumbuhan secara kualitatif, antara lain dilakukan dengan melakukan survei langsung. Dengan begitu kamu akan mengetahui secara langsung batas-batas pertumbuhan wilayah.. Selain itu, penentuan batas pertumbuhan secara kualitatif juga dapat dilakukan dengan interpretasi foto udara atau citra satelit.

b.       Secara Kuantitatif

Penentuan batas wilayah pertumbuhan secara kuantitatif, merupakan cara penentuan batas wilayah berdasarkan ukuranukuran dari variabel tertentu. Penentuan ini dapat dilakukan dengan perhitungan matematis, antara lain dengan rumus teori titik henti.

Model ini dikemukakan oleh William J. Reilly. Teori ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi unit usaha ekonomi, sarana kesehatan, atau sarana pendidikan. Rumus model titik henti:

                 

Keterangan:

THAB = jarak lokasi titik henti yang diukur dari wilayah pertumbuhan dengan jumlah penduduk lebih kecil.

JAB = jarak antara wilayah pertumbuhan A dan B.

PA = jumlah penduduk wilayah pertumbuhan yang lebih besar.

PB = jumlah penduduk wilayah pertumbuhan yang lebih kecil.

Contoh soal:

Jumlah penduduk wilayah pertumbuhan A adalah 8.000 orang, wilayah pertumbuhan B adalah 2.000 orang. Jarak antara wilayah pertumbuhan A dan B adalah 15 km. Berapa lokasi titik henti antara A dengan B?

Jawab:

Jadi, lokasi titik henti antara wilayah A dan B adalah 3 km diukur dari wilayah pertumbuhan B. Apakah arti angka tersebut? Hal itu menunjukkan wilayah B pertumbuhan wilayahnya memiliki jangkauan yang lebih dekat dibandingkan dengan wilayah A.


Komentar